Si Polisi Wanita tidak memperbolehkan aku keluar karena suhu diluar 5 derajat Celsius pagi itu, dan jalan ke halte gak sampai 5 menit padahal bus pertama jam 05.05. Tapi aku punya rencana lain di otak jadi aku memaksakan diri untuk pamitan. Semua keluar untuk mengantarkanku, rada terharu juga, aku cuma bisa bilang terima kasih berulang-ulang sambil membungkukkan kepala seperti tradisi mereka.

Belok kanan menuju Seoul Station sambil dada-dada ke mereka berasa lagi dianterin berangkat perang, hahaha… Sampai Seoul Station aku nengok ke arah mereka, apakah mereka masih didepan kantor polisi, tapi ternyata mereka segera masuk, mungkin karena cuaca yang dingin dan mereka gak pakai jaket waktu keluar jadi buru-buru masuk kantor lagi begitu aku udah pergi.

Bagus, ini saatnya, aku berjalan balik ke arah kantor polisi dan lari secepat kilat ketika lewat depan kantor. Rencanaku adalah nunggu bus yang 04.50, baru kalau beneran gak ada aku lari lagi ke bus yang jadualnya 05.05 di halte Seoul Station.

Baru sampai di tiang yang ada jadualnya itu, tiba-tiba wuuus, lewatlah bus gede dengan tulisan ”LIMOUSINE AIRPORT BUS”! Tanpa berhenti di halte tempat aku nunggu!

’Umiiiii, you’re so stubborn!!’

Aku mulai menyalahkan diriku sendiri dan ngomong sendiri di pagi buta itu, tanpa pikir panjang aku langsung manggil : TAXIIIII!!!!

Ciiiiiiiiiit, suara lebay ban mobil taksi yang berhenti mengimbangi suara lebayku manggil taksi.

’Ahjussii, airport bus, seoul station, incheon’

Aku berusaha ngasih tahu maksudku untuk ngikuti airport bus yang sudah lewat. Akhirnya supir taksi mengerti dan dengan ngebut ngejar bus itu, sampai akhirnya kita berhasil njejerin bus itu di lampu merah. Supir taksi manggil supir bus nya, dan supir bus nya bukain pintu biar bisa ngobrol.

Ternyata, bus nya baru mau berangkat ke pool!!!

Lampu hijau, dan kenalah aku serangan panik.

’Ahjussi, ottuke ahjussi, ottuke ottuke, aaahhh aigoo aigoo…’

 Aku mulai ngomong sendiri dan menggoyangkan-goyangkan badanku padahal ransel masih nempel di punggungku. Aku bener-bener panik, supir taksi bertanya kapan pesawatku, 07.20 dan waktu itu sudah jam 05.10. Dengan sigap supir taksi ngebut dan menurunkanku di halte berikutnya untuk nunggu airport bus yang menuju Incheon. Aku pasrah saja.

Bus datang pukul 05.15.

Sms teman-temanku sudah mulai masuk ketika aku naik bus :

03.01 Budi : Mi, Cebu gak bisa self check in jadi u must come asap yak

03.28 Budi : Mi, check in di J3 lantai 3, paling lambat 6.15 yaaa…

03.56 Hanum : Umi udah sampai? Elo musti lari secepatnya karena masih ada 1 tas yg blm bisa masuk bagasi. Fighting!

Sms yang telat masuknya ini bikin aku tambah senewen. IncheonAirport itu jauh, 48 km dari Seoul, jadi aku cuma pasrah.

Sms terakhir ngasih tahu aku kalau aku belum nyampe 06.15 mereka akan akan masuk ke boarding gate.

Kebelet pipis, tanda stress pertama.

Nyampe GimpoAirport, supir bis matiin mesin dan turun dari bus kemudian ngobrol ama satpam disitu. Aku tambah stress, kupanggil-panggil supirnya sambil nunjuk-nunjuk jam, si bapak supir cuma ngelihat aksiku dan balik ngobrol lagi.

Aku berusaha ambil nafas panjang, jantungku sudah berdetak sangat cepat, mungkin aku sudah ngompol, dan air mata sudah ada di ujung mata.

Ambil nafas panjang Umi! Tenang Umi, berpikir!

’Oke, aku harus bikin rencana, tenang Umi… ’

Kalau :

  1. Masih bisa check in dan check in baggage, alhamdulillah
  2. Bisa check in tapi gak bisa check in baggage, buang barang-barang!
  3. Gak bisa check in, telpon Mbak Wina di Gyeongju minta dicariin kerja untuk beli tiket pulang, illegal illegal deh…

Setelah punya rencana, aku agak tenang. Ada beberapa sms lagi yang langsung ku delete karena bikin stress.

Akhirnya Incheon sudah kelihatan, dengan pasrah kupandangi lampu bandara yang kelihatan sangat indah karena masih gelap. Salah satu airport terbesar, terkeren dan terbersih kelihatan sangat ‘sendu’ pagi itu buatku.

Begitu bus naik ke lantai 3, departure area, aku langsung ngambil ranselku, siap berdiri di depan pintu.

A – B – C – D – E – F!

Aku langsung teriak dengan penuh semangat ke supirnya : ‘Kamsahamnida Ahjussi!!’.

Tanpa ngecek udah jam berapa, aku langsung lari secepat-cepatnya ke counter J, G – H – I – J!!! Semua seperti gerak lambat buatku, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku : MI!!!! Aku langsung noleh dan kulihat Hanum, Echi dan Budi berdiri diluar counter J.

Aku langsung lari ke J3, diikuti Hanum. Si embak yang jaga counter check in langsung marah-marah karena aku gak antri. Gak bisa ngomong karena ngos-ngosan, Hanum akhirnya yang ngomong buatku. Setelah agak lama karena si embaknya bingung antara Indonesia dan India, yang mana yang bebas visa ke Philippines karena tiketku ke Manila dan tidak ada visa di pasporku, akhirnya boarding pass! Dan tasku masih bisa masuk bagasi.

Masih belum bisa ngomong, aku ndengerin aja cerita anak-anak yang bilang kalau mereka udah sepakat kalau aku gak datang 06.15 mereka akan masuk, tapi ternyata pas 06.14 aku kelihatan lari-lari. Buru-buru ke boarding gate, aku langsung ke kamar mandi. Lagi di kamar mandi sudah ada panggilan untuk boarding, akhirnya buru-buru keluar.

‘Rrrrrrrrrrrr’ suara mesin kereta api ini keras banget sih..

Apaaaaaaaaa? Aku masih di keretaaaaaaaa????

Duk, kakiku jatuh ke bawah. Aku terbangun.

Masih bingung, aku perhatikan panel-panel diatasku, alhamdulillah aku sudah di pesawat!!

Pesan cerita :

Biar gak oon kek aku, ini ada keterangan lengkap airport bus yang ke Incheon.

http://en.wikipedia.org/wiki/Incheon_International_Airport

Harusnya kalau aku sabar aku bisa naik bus 6015 yang haltenya Cuma tiang itu, yang sampai disitu 04.50, yang kunaikin adalah bus 6001 yang memang mampir dulu ke Gimpo Airport.