’Itulah yang ada diotakku, malam itu….’

Hari yang sangat menyenangkan dan merasa melayang.

Hari pertama di Seoul aku cuma menghabiskan waktu dengan ngobrol dan sarapan bersama dengan hostku kemudian makan siang dan ngobrol dengan klien… Setelah itu cuma bengong terkantuk-kantuk di pinggir Cheonggyecheon Stream..

Dikasih tahu klienku kalo malam itu ada pertunjukan kembang api yang sangat besar di Sungai Han, jadi setelah bengong gak jelas akhirnya bergerak menuju stasiun.

Kelihatan dari kereta pinggir Sungai Han sudah ramai sekali, karena bingung mau nonton darimana akhirnya aku mutusin untuk nyempil di antara keluarga-keluarga yang sudah menggelar matras di depan Pasar Ikan…

Melihat mereka terbesit sedikit rasa iri,😀

Suasana ternyata sangaaaaat ramai, bener-bener ramai! Aku duduk beralaskan peta Korea dan tidak membawa bekal kecuali air minum, dan keluarga-keluarga itu berpesta shasimi,🙂

Akhirnya ada pasangan anak muda yang bisa kuajak ngobrol sambil menikmati kembang api, dan mereka membagi bekalnya denganku, menyenangkan…

Aku berpikir dengan keramaian seperti ini kalau menunggu selesai pastilah susah ke stasiun, akhirnya aku bergerak ke stasiun sebelum selesai.

Jalanku sangat cepat waktu itu karena ternyata banyak orang yang berpikiran sama!

Dan lomba jalan cepat itu ternyata berakhir ’macet’ di jembatan menuju stasiun di atas rel kereta.

Bener-bener macet! Tak bergerak!

Bapak-bapak mulai teriak-teriak, ibu-ibu yang terpisah dengan suaminya pun mulai teriak-teriak… karena gak bisa bergerak sama sekali, orang-orang mulai panik…

Jembatan itu panjangnya kira-kira 25 meter, dengan tinggi antara 10-15 meter dari permukaan rel.

Akhirnya aku menyuarakan apa yang ada dikepalaku dengan bertanya ke seseorang yang kuanggap bisa bahasa inggris : Apakah jembatan ini cukup kuat menahan beban orang berhenti sebanyak ini?

Dia bilang : gak papa, kuat kok…

Tapi angin musim gugur sangat kencang malam itu, terasa sekali jembatan bergoyang, entah karena angin, entah karena beban.

Yang ada di pikiranku :

Apakah aku akan mati disini?

Jika jembatan ini runtuh, apakah masih bisa selamat?

Kenapa lupa nyatet nomor kedutaan?

Yang kulakukan kemudian cuma ngambil nafas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan, menghilangkan rasa panik dalam diriku… sembari ngecek, paspor ada di dalam tasku!

Dengan tinggi badanku, aku tidak bisa melihat apa-apa ke depan… dan gak tahu gimana setelah rasanya ber-abad-abad akhirnya kemacetan itu mulai bergerak, setapak demi setapak…

.. dan aku masih disini!