Datang ke Busan pas ada BIFF? Sangat menyenangkan! Suasana kota begitu hidup dengan semua poster dan acara yang dipersiapkan untuk mendukung festival.

Jika melihat Busan Tourism Map yang dikeluarkan oleh pemerintah Korea, bisa langsung kelihatan Busan Cinema Centre. Gedung inilah yang menjadi pusat kegiatan dari BIFF, Opening dan Closing Ceremony diadakan salah satu teaternya yaitu BIFF Theater yang merupakan teater terbuka.

 

BIFF Cinema

BIFF Cinema

Busan seperti disulap menjadi Cinema City untuk seminggu. Semua teater yang ada di kota ini dimanfaatkan, jadual lengkap dan peta bisa didapat dimana aja, stasiun, terminal, hotel.. Kalau mau yang lebih lengkap tentu saja ke tempat penjualan tiket. Bahkan BIFF menerbitkan majalah harian selama berlangsungnya acara yang memuat film-film apa yang diputar hari itu, dan juga seputar gosip artis! Sayang, majalah-majalah itu terlalu berat untuk saya bawa pulang ke Indonesia.

 

Ticket Box di BIFF Cinema

Ticket Box di BIFF Cinema

 

Bangga juga menemukan nama teman saya ada di deretan tamu. Sebenarnya kita janjian ketemuan, tapi ternyata kita janjian beda hari, hahaha…. Go Ifa, sukses selalu!

 

nemu nama si Ifa

nemu nama si Ifa

 

Saya mengunjungi BIFF Square di Jagalchi Market sore itu. Hanya mengenakan sandal jepit karena sepatu saya rusak di Seoul, saya dilihatin banyak orang, ‘di udara dingin kok pakai sandal’, mungkin itu yang ada di pikiran mereka.

 

dingin-dingin pake sendal

dingin-dingin pake sendal

 

Keluar dari stasiun sudah terasa ramainya, dan langsung berada di BIFF Square! Toko-toko di BIFF Square ini sepertinya juga ikut menyemarakkan festival dengan memberi diskon besar-besaran. Mata saya langsung tertuju pada sepatu boot seharga 10.000 won (sekitar 90.000 idr), dan tentu saja langsung membelinya!

 

murah!

murah!

 

Di BIFF Square terdapat layar lebar dan panggung di depan Megabox Busan Theater, salah satu teater yang digunakan untuk BIFF. Sore itu tidak ada acara di panggung, tapi suasana ramai sekali oleh orang-orang yang ingin berfoto. Melihat jadual film yang ada di Megabox Busan Theater, tidak ada yang ingin saya tonton, jadi saya melanjutkan jalan-jalan.

 biff3

 

Keesokan paginya saya mengunjungi BIFF Village di Haendae yang lokasinya berada di tepi pantai. Pagi itu masih sepi, bahkan panitianya belum ada yang berada di pusat informasi. Saya ingin mendapatkan booklet BIFF untuk mengetahui informasi yang lebih lengkap dari BIFF. Akhirnya setelah beberapa saat saya bertanya kepada salah seorang panitia yang baru saja datang, dan dengan baiknya dia mengambilkan booklet yang paling lengkap dari dalam ruang panitia. Langit biru dengan merahnya warna BIFF Village membuat saya tidak berhenti untuk memotret, sungguh indah pagi itu.

 

BIFF Village

BIFF Village

 

pas di tepi pantai

pas di tepi pantai

 

Malamnya saya sudah menjadualkan menonton ‘Tai Chi 0’, film dari Hongkong yang disutradarai oleh Stephen Fung. Saya datang kurang cepat sehingga dapat tempat duduk yang agak belakang di BIFF Theater. Tiket menonton pembukaan dan penutupan sangat mahal, jadi saya akhirnya memilih film ini untuk saya tonton di teater yang sangat besar dan luas ini dengan tiket sebesar 6000 won (sekitar 54.000 idr). Untuk masuk ke teater ini, kita melewati karpet merah yang digelar dari tempat pembelian, berasa artis!

Pintu masuk ke Open Theater

Pintu masuk ke Open Theater

 

Film ini bisa ditonton semua umur, jadi banyak keluarga yang hadir.

Sebelum film dimulai, ada pembukaan yang ternyata dihadiri oleh Stephen Fung! Saya langsung menyesal tidak datang lebih awal sehingga bisa duduk di kursi depan. Dari jauh pun Stephen Fung keliatan tinggi, atletis dan ganteng!

 

Open Theater

Open Theater

 

Filmnya ternyata sangat lucu dan menarik. Bercerita tentang seorang anak yang punya tanda lahir aneh yang memberikan dia kekuatan yang sangat mengerikan. Film ini ternyata merupakan awal dari trilogi, jadi bersambung!

Ditengah-tengah film, tiba-tiba angin berhembus kencang. Suhu di malam hari pada musim gugur lumayan dingin buat saya, saya langsung memakai jaket yang jarang saya pakai selama di Korea. Ternyata buat orang Korea pun, angin dan hawa malam itu terasa dingin. Ibu-ibu membawakan selimut buat anak-anaknya, dan yang lainnya juga segera memakai jaket. Maklum, teater terbuka.

Film selesai diiringi tepukan yang sangat meriah dari semua penonton. Semua kursi terisi penuh malam itu. Banyak penonton yang ternyata pemuda-pemuda Korea yang sedang wajib militer, rupanya mereka lebih memilih menonton di BIFF di hari liburnya. Jadilah banyak yang memotret dan minta foto bareng dengan mereka. Ada yang berseragam angkatan laut, ada juga yang angkatan darat.

 

Anak-anak muda yang lagi wamil

Anak-anak muda yang lagi wamil

 

Berfoto di karpet merah juga merupakan salah satu yang diincar para pengunjung BIFF, termasuk saya, dan tentu saja buat anda yang akan berkunjung ke Busan International Film Festival tahun ini!

*maaf tulisan dibuat untuk majalah jadi agak-agak gimana, hahahaha

narsis!

narsis!