Foto-foto cantik yang beredar di dunia maya membuatku merasa sangat ingin berkunjung ke tempat ini. Akhir-akhir ini aku lebih menyukai trip budaya dibanding trip alam, kecantikan arsitektur bangunan-bangunan dan sejarahnya sangat menarik buatku.

Sejak naik kapal Phinnisi, aku sudah mulai bertanya-tanya siapa yang mau lanjut ke Wae Rebo. Ternyata ada banyak : Kiki, Sheila, Eni, Sigit, Yogi, Dayen. Dari obrolan disimpulkan kalo Kiki, Sheila, Yogi & Dayen mau langsungan begitu kapal merapat di Labuan Bajo. Aku, Eni & Sigit mutusin kalau kita berangkat hari selanjutnya, pengen tidur dulu.

29 Desember 2014

Pagi-pagi kita bertiga udah siap mau ngejar bis Gemini yang katanya bis pertama yang berangkat ke Ruteng. Pas nyampe di pelabuhan ferry tempat si bis ngetem, ternyata bisnya sudah gak ada. Akhirnya setelah tawar menawar kita mutusin naik travel dengan biaya 100rb berangkat jam 07.00.

Travel berangkat sebelum jam 07.00, beli bensin dulu, nyari penumpang dulu… di jalan ada tebing longsor, Alhamdulillah kita naik mobil kecil jadi bisa lewat. Bis Gemini yang pengen kita naekin sebelumnya terjebak gak bisa lewat.

Agak dipaksa turun di Pertigaan Pela karena sopirnya mau ngambil penumpang setelah itu, daaaan dia minta kita bayarnya nambah 50rb/orang dengan alasan tadi berangkat dari Labuan Bajo kosong. Aduh, sebel banget deh kalo kena tipu-tipu kek gini, dan dasar aku males ngeladenin orang-orang kek gini, ahirnya kutambahin 50rb untuk bertiga.

Begitu turun kita diserbu ojek. Tawaran mereka 300rb, padahal kalau naek oto (sebutan untuk mobil) hanya 30rb. Karena tidak ada yang jelas ngasih informasi, akhirnya aku nanya mbak yang jualan di warung, dia bilang nanti pasti lewat. Dan benarlah, ada dua oto lewat, dan gak mau brentiiiiii….. Kita ditutupin banyak ojek itu, jadi pas aku teriak-teriak manggil, sepertinya sopirnya gak denger…

Tanya lagi ke si mbak warung, dia bilang nanti pasti ada yang lewat lagi, Alhamdulillah… Pas lagi ngeliatin mobil yang lewat, tiba-tiba aku melihat Yogi, iya Yogi di angkot! Dengan sekuat tenaga aku manggil, dan Yogi denger… Larilah kita bawa tas ke angkot mereka.

Yogi, Dayen, Kiki, Sheila nyarter angkot. Jadi ceritanya mereka berempat maunya tek-tok ke Wae Rebo, yang sebenarnya agak mustahil, mungkin mereka kurang detail cari informasi tentang Wae Rebo. Kupikir mereka langsung sewa mobil untuk menuju Denge jadi paginya sudah bisa langsung ke Wae Rebo, sore bisa balik lagi ke Labuan Bajo. Tapi yasudahlah, aku hanya mendengarkan mereka bercerita. Mereka menyewa angkot ini 1jt dari Ruteng, yang menurutku murah sekali.

Setelah satu jam nyampe di Desa Todo, tiba-tiba sopirnya brentiin mobil dan keluar bertanya. Dan ternyata oh ternyata, dia belum pernah ke Wae Rebo dan mobil itu emang disewa Cuma sampai Todo. Masih 3 jam lagi ke Denge, desa terakhir untuk menuju Wae Rebo.

Mulailah perbincangan, berapa lama lagi, alternative kendaraan dll. Karena semua kena batasan waktu, akhirnya mereka berenam mutusin untuk balik, batal melanjutkan perjalanan. Tapi aku tidak! Langsung kuturunkan tasku karena aku dengar masih ada oto yang akan lewat ke Narang, nanti dari Narang baru tak pikirin lagi naik apa ke Denge.

Penduduk desa bilang kalo di Todo ada rumah adat yang persis dengan yang di Wae Rebo, aku tidak sempat untuk kesana karena waktu mau jalan kaki kesana, oto yang ke Narang datang. Dan ternyata benar, rumah tradisional seperti yang di Wae Rebo itu pertama kali dibangung di Todo, jadi yang tertua ada di Todo. Mereka juga gak ingat kapan yang di Wae Rebo mulai dibangun, yang mereka tahu hanya saat ini sudah sampai generasi 18 yang tinggal di Wae Rebo.

ninggalin mereka di Todo

ninggalin mereka di Todo

Loncat ke truk (bener-bener loncat dalam arti sebenarnya), mulai bingung dimana naruh kaki. Truk yang sudah dimodifikasi menjadi angkutan rakyat ini lantainya penuh dengan ayam dan tahi ayam.

Dadadada ke anak-anak yang masih duduk dengan wajah kebingungan, byeeeee!!!

Begitu duduk manis di kursi, entah kenapa aku merasa sangat bahagia… yihaaaa, sendirian! Here’s come the adventure! Begitu bis brenti untuk menaikkan penumpang, aku diketawain penumpang lain. Jadi untuk naik ke truk ini, semua harus memanjat, barang-barang dinaikin dulu dengan cara minta tolong ke penumpang yang lain. Karena aku duduk di pinggir, jadilah barang-barang lewat diriku, apa aja: kantung plastik, tas, bayi, dan tentu saja ayam! Na pas aku dikasih ayam, aku kaget sehingga berteriak, seumur-umur aku belum pernah pegang ayam hidup, :p.. teriakanku membuat semua penumpang menertawakanku, dan anak kecil didepanku kemudian dengan cepatnya mengambil ayam itu dari depan mukaku dan menaruhnya di bawah kursi,😀.. hihihi, malu bingits euy!

Dari obrolan dengan penumpang yang lain aku mendapatkan info kalau masih ada oto yang hari itu ke Denge. Jadi nanti aku tinggal nungguin di Narang, Alhamdulillah…

Aku turun di Narang di ujung desa oto truk itu harus putar balik. Untung ada warung. Pertanyaanku pertama kali di warung itu adalah ‘bisa tolong bikini mie rebus?’ dan si mama menjawab ‘tidak’.. seharian aku belum makan, akhirnya aku beli minuman manis untuk menambah energi. Dari warung itu sepi menjadi ramai karena banyak orang yang menimbangkan beras atau menjual beras, oto nya belum datang juga.

lokasi nunggu di Narang

lokasi nunggu di Narang

Oto truk angkutan umum ini dilengkapi oleh speaker masjid yang kek toa itu, jadi lagu-lagu yang diputar dengan volume extra menjadi penanda buat masyarakat kalau oto nya datang… akhirnya setelah hampir 2 jam menunggu, datanglah oto pemda warna merah dengan tujuan akhir Denge, desa terakhir untuk menuju Wae Rebo. Awalnya sopirnya tidak mau berhenti karena oto itu penuh sekali, bener-bener penuh mpe atapnya, tapi si mama teriak-teriak sambil bilang ‘tolong, kasihan..’😀

oto

oto

Si kondekturnya bilang, aku Cuma bisa nyempil duduk di tali yang menyambungkan antara truk dengan tutup belakang truk. Tasku dilempar ke atas truk. Aku bilang tidak apa. Akhirnya aku merasakan juga keuntungan punya pantat besar, hahaha… Duduk di atas tali dengan goyangan yang maksimal karena jalannya jelek dan kadang truk mengebut itu sangat membutuhkan konsentrasi supaya tidak terlempar keluar truk, ditambah ada banyak ayam hidup yang dicantelin didekatku, aduuuh baunya ajib deh, :p

yang tali sepatunya oranye sepatuku, :p

yang tali sepatunya oranye sepatuku, :p

Akhirnya setelah beberapa saat ada penumpang yang turun sehingga aku bisa duduk di kursi, Alhamdulillah…

Jalanan dari Narang menuju Denge ini awalnya menurun, langsung ke laut yang kemudian menyusuri pantai, selanjutnya naik bukit lagi. Sebenarnya tidak terlalu jauh dari Narang ke Denge, satu jam saja cukup, tapi karena banyak nurunin penumpang dan jalannya jelek, waktu yang dibutuhkan menjadi semakin lama.

Setelah melewati Dentor, aku mulai bingung dimana harus turun. Rencanaku turun di tempat Pak Martin, Wae Rebo Lodge. Tapi aku bertemu rombongan Makasar Backpacker di oto yang sama yang kemudian mengajakku bergabung tidur di rumah penduduk, walaupun awalnya aku yang ditawarin Ovan untuk tidur dirumahnya karena dia merasa kasihan denganku.

Jadi akhirnya aku gabung ama anak-anak dari Makasar ini.

Diputuskan kalau kita akan naik dan turun besok tanggal 30 Desember, karena tanggal 1 Januari tidak ada oto yang beroperasi, kita harus naik oto yang tanggal 31 Desember yang berangkat jam 2 pagi, hanya itu satu-satunya.

Lapar dan ngantuk, jadi ketika sudah kenyang, langsung tidur deh…

rumah Ovan

rumah Ovan

30 Desember 2014

Sesuai kesepakatan, kita berangkat jam 06.00 pagi. Estimasi 9 km adalah 4 jam jalan lambat. Jalanan awal yang berupa batu-batu yang dipersiapkan untuk diaspal sangat menghancurkan mood jalan, apalagi nanjak,hehehe… setelah ketemu sungai barulah jalan setapak, tapi nyebelinnya ada penanda masih berapa jauh lagi dari Wae Rebo. Ingin rasanya aku mencabut semua plang itu, hihihi…

Aku nyampe di rumah pertama jam 09.00, tepat 3 jam, mungkin bisa lebih cepat seandainya aku tidak ngobrol sana-sini. Tapi dari obrolan itu aku mendapatkan info kalau sebenarnya ada rombongan dari Jakarta yang kemaren sore naik jam 17.00.. aaaah tahu gitu aku turun di Pak Martin deh, tapi ya sudahlah, belum rejekiku bisa nginap di Wae Rebo.

Menunggu semuanya datang, akhirnya jam 10.00 kita masuk perkampungan. Indah sekali… kita disambut dengan upacara sederhana dari pimpinan adat, setelah upacara itu intinya kita bukan lagi orang Jogja atau orang Makasar tapi orang Wae Rebo.

????

Aku menikmati berada di kampung ini, dan aku merasa senang kalau orang-orang di kampung ini membuat tidak mudah untuk datang ke kampung ini. Retribusi, jalanan rusak, trekking, angkutan yang terbatas, itu semua membuat kampung ini tetap cantik…

tempat nginep di dalam rumah

tempat nginep di dalam rumah

Makan siang sudah termasuk dalam harga yang kita bayarkan ketika masuk kampung ini, dan makan siangnya enak sekali. Dengan menu sederhana : sayur bayam, sambal terasi, dan perkedel keladi. Perkedel ini juaranya, enak sekali!!

Kampung ini terkenal dengan hasil kopinya, bau kopi dimana-mana karena mama-mama sedang menumbuk kopi membuatku sangat betah disini.. ah harusnya nginep ni memang!

Tiap rumah disini diisi oleh 6 KK, kecuali rumah Gendang diisi oleh 8 KK, rumah yang paling besar dan mempunyai tanda yang berbeda di atapnya. Ada rumah tamu untuk tamu yang nginap. Ketika tamunya sudah tidak cukup di rumah tamu, maka akan disebar untuk menginap di rumah-rumah yang lain. Karena sudah hampir 4 tahun tamu-tamu yang datang meningkat dengan drastisnya, mereka sudah sangat terlatih menerima tamu yang datang. Peralatan makannya pun standar catering,😀

Kenalan dengan beberapa rombongan yang lain, Josep dan temannya menawarkan untuk bareng ke Kelimutu, tapi aku gak enak karena mereka membayar paket perjalanan ke travel agen, bukan sewa mobil. Aku bilang nanti pas di Moni aku akan nanya ke supirnya boleh tidak ikut ke Labuan Bajo.

Jam 13.30 kita turun. Aku turun sendiri, ngikutin Pak Agus, penduduk lokal Wae Rebo yang mau turun untuk nyari uang dengan cara menjadi guide untuk tamu-tamu. Kami adalah tamu ke 2998, hampir 3000, itu untuk tahun 2014 saja. Kata Pak Agus, tiap hari pasti ada yang datang, minimal 4 orang.

pak agus

Menyenangkan sekali berjalan bersama Pak Agus ini, aku mendapatkan banyak sekali informasi tentang Wae Rebo, tentang adat istiadat, budaya, kebiasaaan… yang paling membuat terharu adalah dengan adanya orang-orang datang membuat mereka bisa menyekolahkan anaknya. Semua yang tinggal di Wae Rebo punya rumah di kampung di bawah, kalau gak salah namanya Kampung Kombo, jadi anak-anak mereka yang masih SD atau SMP tinggal disini, kalau SMA mereka harus tinggal di Narang untuk sekolah, ada asrama atau tinggal di rumah saudara. Pak Agus berniat membawa kayu yang sudah dipotong untuk pintu rumahnya. Ketika aku naik, aku juga ketemu dua bapak-bapak yang membawa kayu dengan potongan yang sama, mungkin mereka menebang pohon dan kemudian membaginya secara adil.

Sandal jepit Pak Agus putus, dan ternyata dia punya banyak cadangan tali sandal di tasnya, aku menjadi terharu.. Berkat perjalanan ini aku jadi bisa melihat rumah lebah yang besaaaar sekaliii… ya madunya bisa mencapai 30 kg kata Pak Agus, tapi waktu itu dia tidak bisa memanennya karena lebahnya lagi pada di rumah. Kata Pak Agus, dia atau yang lain akan memanen madunya ketika lebahnya bepergian.

Di dataran Manggarai ini, untuk menikah seorang lelaki harus ‘membeli’ istri. Pak Agus membeli istrinya dengan 4 kerbau, 2 babi, 4 kuda, dan uang sebesar 1,6jt di tahun 1996. Istrinya pasti cantik sekali yaaa…😀

Pas sampai di sungai Pak Agus bertemu dengan anaknya, dan aku merasa sudah saatnya berpisah… Aku turun duluan, pasang headset dan berjalan cepat, melewati semuanya,😀

Homestay Pak Blasius

Homestay Pak Blasius

Aku mampir ke homestay kepunyaan Pak Blasius, eee ketemu lagi dengan Josep, dia masih juga menawarkan barengan ama dia, tapi karena dari nada bicara sopirnya kurang menyenangkan, aku memutuskan tidak. Sambil ngobrol dan dijamu teh panas, aku juga kenalan dengan Mazna yang ternyata masih berjodoh untuk bertemu lagi nanti di Labuan Bajo.

Ternyata urusan tidak ada angkot di tahun baru menjadi lebih serius. Sopirnya Josep bercerita kalau tanggal 31 nya nanti sekitar jam 15.00 sudah tidak ada angkot, jadi kalau tanggal itu aku masih pengen bisa nyampai Moni sepertinya mustahil. Aku bilang, lihat saja besok deh…

Pulang dari Pak Blasius aku pengen ke Pak Martin, aku kurang tahu berapa jaraknya, kata orang-orang jauh.. Aku berlari turun, banyak yang bertanya, hihihi… setelah beberapa saat, mungkin sudah 5 km, aku merasa harus naik lagi. Pas banget ada angkutan lewat, angkutan yang Cuma dua kali sehari, pagi dan sore, dari Dentor ke Denge. Kata si abang sopir, ke tempat Pak Martin masih sekitar 3 km lagi turun, ya sudahlah, lain kali…

Malam itu akhirnya mandi di parit depan rumah Ovan, paritnya bersih dan ada pipa saluran air bersih dari gunung, segar sekali… Bapaknya Ovan minta salah satu dari kita untuk menyembelih ayam, terharu aku, mereka sangat pengertian dengan kami yang muslim…

Setelah packing, akhirnya semua tertidur…

31 Desember 2014

Oto datang sekitar jam 02.30… tidak terlalu dingin tapi sudah antisipasi pakai jaket, daripada masuk angin… Pas lewat Narang aku menghidupkan paket dataku, karena di Narang paket datanya kencang sekali. Ada email, aduh laptopku di Ubud, aku gak bisa ngerjain… Mmmmm, oke, aku batalin ke Kelimutu untuk saat ini…

Jam 07.30 kita ternyata sudah nyampe di Pertigaan Pela, padahal katanya perkiraan paling cepat jam 09.00, mungkin karena tidak berhenti di Narang selama satu jam dulu.

Aku naik bus bersama Budi, salah satu dari rombongan anak-anak Makasar, yang lain mau nebeng truk (mereka selalu nebeng-nebeng untuk perjalanan ini kecuali pas naik oto untuk ke Wae Rebo). Begitu nyampe Labuan Bajo aku langsung ke Bajo View, penginapan yang bikin penasaran, dan malamnya ketemu Mazna di penginapan ini, kita makan bareng dan menikmati tahun baru berdua,😀

Catatan penting:

1. Labuan Bajo – Pertigaan Pela : 2,5 jam; Pertigaan Pela – Ruteng : 1 jam; Pertigaan Pela berada diantara Labuan Bajo dan Ruteng

2. Bus dari Labuan Bajo ke Pertigaan Pela : 50rb, Travel : 80rb

3. Pertigaan Pela – Denge (desa terakhir sebelum ke Wae Rebo) : 5 jam, 25rb. Oto yang pasti Cuma ada satu kali sehari, berangkat dari Ruteng jam 11.00, sampai di Pertigaan Pela jam 12.00. Oto Pemda warna merah.

4. Denge – Wae Rebo : 3 – 4 jam, 9 km

5. Retribusi untuk Wae Rebo, per 1 Januari 2015 :

  • Tidak menginap : 200rb
  • Menginap : 350rb
  • Guide : 200rb
  • Ada biaya untuk potong ayam per grup menginap, lupa nanya berapa.
  • Kalau mau dianterin ke air terjun, kurang lebih jalan kaki 30 menit, membayar 50rb/orang.

6.  Denge – Ruteng, oto berangkat sehari sekali jam 02.00 dari Denge.

7.  Menginap di Pak Blasius, Denge membayar 200rb/orang/termasuk 3x makan. Untuk di Pak Martin sepertinya harganya sama, aku tidak sempat kesana untuk memastikan.

Oto Pemda Merah

Oto Pemda Merah